Wedotomo di Eagle Hill
Tidak tahu bagaiman awalnya, atau mungkin terbawa setting pikiran untuk Out Of The Box terbersit ide untuk nembang pangkur saat sedang melakukan pertempuran & persaingan di arena Outbond.
Malam itu semua regu harus nampil didepan untuk unjuk kebolehan, ada yang membuat opera menirukan opera van Java tentang Bank Kentuty, ada yang menari saman dengan lagu ….kawin-kawin.
Dan regukupun sesuai ide saya, nembang macapat pangkur “WEDOTOMO” dengan iringan huuuuuuuuuu …huuuuuuuuuuuu di belakangnya.

Mingkar mingkuring ukoro
Akarono …..karenan mardi siwi
Sinawung resmining kidung
Sinubo sinukarto
Mrih Pakarto….pakartine ngelmu luhung
Ing tumrap neng tanah jowo
Agomo ageming aji.
Di depan peserta yang bukan “jawa”, kalaupun orang jawa juga mungkin sudah seperti saya yang hampir melupakan tembang-tembang yang beginian, dengan suara parau karena grogi , saya berlagak serius, berdendang dan bercerita tentang Wedotomo.
Untaian syair pembuka Wedotomo Karangan (yang katanya) dibuat Srisuhunan Mangkunegoro IV (terlepas dari kontroversinya), saya coba artikan dengan tafsir disana - sini.
Dalam kita hidup ini, kita di anjurkan untuk menahan hawa nafsu dengan mengurangi segala kesenangan-kesenangan kita, di anjurkan untuk memperhalus tata bahasa dan ucapan kita, mencoba untuk membuat syair.
Dikarenakan suatu tanggung jawab kita sebagai manusia, yaitu : ” Mendidik”.
Mendidik anak-anak kita, adik-adik, atau anak buah kita jika punya, ataupun junior kita jika kita senior.
Sebenarnya wedotomo ini disajikan dalam bentuk tembang resmi mocopat (tembang jawa dimulai dari pangkur, sinom, gambuh, kinathi sampai megatruh…yang saya juga tidak hapal).
Tetapi intinya adalah : Di alam ini, jika kita mau melihat lebih detail lagi, mendengar lebih halus lagi, akan nampak terdengar suatu simponi menuju sebuah pelajaran budi perkerti yang luhur.
Dan di tanah yang kita berpijak saat ini, ada pelajaran agung yang tak mungkin terbantahkan, ada jalan lurus yang mestinya dengan sabar kita lalui, ada sebuah pakaian hakiki yang paling pantas selalu di kenakan.
Yaitu : ” Agama”.
Daleeeeeeeeeeeem khan….?
Tapi semuanya saya buat guyonan saja karena di akhiri dengan nada yang tidak nyambung dengan kedaleman makna dan lagu kuno yang saya tembangkan.
Teeeeeeeeeeereret …….tet..tet.
Pak Guru Eko yang menangis di podium
Pagi ini saya membuka Detik dengan sebuah berita ” Eko pramono menangis di podium MK”.

Guru PKn ini menangis karena bahagia mendapatkan penghargaan sebagai guru PKn terbaik nasional.
Mas Guru dari wonosari Gunung Kidul ini , yang badanya masih terus berasa bergetar karena baru pertama kali naik lift , menangis karena teringat Simboknya (Ibunya), yang berjualan di emperan jalan untuk memperjuangkan anaknya agar bisa menyekolahkan anaknya hingga bisa menjadi guru.
Dan para pejabat itupun ikut menangis………………terharu.
Lalu pikiranku menerawang jauh ke Yogya dijaman dulu , ketempat simbokku yang juga berjualan diemperan jalan sampai ahkir hayatnya , ketempat Guru-Guru di SD ku dulu.

Kalau di DIY menjadi Guru jaman dulu, biasanya untuk awal karier dan ajang penggemblengan , biasanya mereka ditempatkan di daerah Kabupaten Gunung kidul dulu, baru ke kabupaten Sleman baru ke kabupaten-kabupaten lain atau ke Kotamadya. Semuanya karena alasan sosial dan geografis, Daerah - daerah diatas dahulu merupakan daerah dengan kondisi yang sulit kehudipan ekonomi dan transportasinya, dan sepeda adalah sebuah alat transportasi yang menjadi andalannya.
Dan saya cukup bersyukur bisa merasakan indahnya bisa merasakan suasana, dimana menghormati guru dengan berebut menjemput mereka di gerbang sekolah, memparkirkan sepedanya dan membawakan tas sampai ke ruang kelas masih dilakukan saat saya SD dulu, mungkin saat ini kejadian seperti itu hanya ada di cerita-cerita Film saja.
Ayoo Pak Guru…. teruslah menjadi manusia sejati yang pantas untuk selalu di Gugu dan di Tiru, rasanya lebih “bergetar” naik sepeda daripada naik lift.
Filed under pawon | Comments (2)Duren Monzooong..!
” Yang Montong…yang Montok…yang Monyoong..!”
” Dipilih - dipilih…buat yang tahu barang..!”
” sebungkus 10 kalau ambil 2 boleh 15..!”
” Yang Montong…yang Montok…yang Monyoong..!”

tri-puspasari.blogspot.com
Teriakan yang terus diulang dari gerbong satu ke gerbong berikutnya sampai ke ujung gerbong, padahal malam sudah larut dan kereta yang biasanya berjubel malam itu terasa longgar ..walaupun tetep tidak bisa duduk.
Bau duren menyeruak diantara bau gerbong kereta dan segala macam isinya, keringat penumpang, buah busuk yang dibuang diawah tempat duduk, anyir dan apek anak - anak jalanan yang mungkin 3 hari tidak ketemu air.
Yaaa duren..terlalu mak nyusss ..untuk diacuhkan, bau dan rasanya begitu seronok buat dilupakan…kecuali memang ada beberapa orang yang memang alergi duren, termasuk anak saya yang lelaki , segala macam makanan ia doyan , kesukaan sejatinya adalah ceker ayam, tetapi kalau bau duren langsung mukanya nampak merah dan siap-siap untuk muntah.
Ketika membaca trasnkip percakapan orang besar di negri ini di media ahkir-ahkir ini yang menyangkut pautkan duren , terlepas dari terpotong-potongnya transkip tersebut atau apakah yang dikirim tersebut duren atau duren-durenan …memang rasanya lansung mual isi perut mau muntah..alergi persis anakku kalau bau duren beneran.
Hukum yang mestinya menjadi aktualisasi “rasa” keadilan terasa terkoyak, oleh perkoncoan antara yang berwajib dan orang-orang yang disangka “hitam” yang mestinya sudah lama hidup dipenjara.
Dan kembali “rasa” itu terus dicabik dengan dibuinya orang yang banyak dianggap dan dirasakan orang menjadi korbannya…!.
Dan seperti ada rasa nostalgia yang memanggil untuk berbuat, buat kebanyakan orang yang mulai tua seperti saya terutama buat yang pernah merasakan sebuah “rasa” yang terkoyak itu menjadi sebuah cita-cita untuk berubah…untuk mengubah.
” Di jalanan kami sadar kan cita-cita ”
” Sebab di rumah sudah tidak ada lagi yang dipercaya..!”
Dan perubahan itu mulai terlihat ufuknya….!!!
Filed under Tak Berkategori | Comment (1)Kemarin, SBY misscall ke aku sampai 3 X
” Kemarin, SBY sempat misscall ke aku sampai 3 X……tapi aku gak angkat ..” kata mBak Genuk , penjual telur asin itu.
” Lha ..jeneeh (habisnya), sudah 3 tahun punya hutang, dibilangnya cuma saak - suuk (besak-besuk) saja ” gerutunya terus berlanjut.
” Malaah yang terakhir aku tagih, dia bilang …(Utang yang mana lagi..?), apa tidak nyengiti (menyakitkan) itu..? ” mBakku ini, sepertinya sudah dongkol sampai ke hati sama si SBY itu.
Gambar : membuat telur asin dari U.D TIGAN MAKMUR
mBak Genuk penjual dan pembuat home industri telur asin swadaya, tanpa pernah minta bantuan modal ke pemerintah atau ke Bank ini, memang termasuk pengusaha sekaligus penjaja yang tahan banting sekaligus memprihatinkan ditengah kebutuhan hidup yang semakin menggila di jaman yang semakin canggih dan hedon ini.
Jika hari telah larut ia dengan tekun memulai memasak telur bebek yang sudah jadi diasinkan untuk dagangan besok hari , sambil terus melumuri bubuk abu yang sudah di beri larutan garam ke telur-telur bebek baru yang diambil dari pasar tadi pagi.
Suaminya yang buruh pabrik di jogya, sepertinya akan kewalahan menanggung biaya yang harus dikeluarkan setiap harinya, terutama untuk biaya sekolah anaknya yang ditekatin untuk memberikan pendidikan yang terbaik. Sejak di TKnya, lalu masuk di SD Muhamadiyah di Sleman , sebuah sekolah favorit yang kalau dipikir ulang.. SD saja mbayarnya sudah begini, apalagi nanti kalau kuliah.
Tetapi karena sudah di tekatin dan memilih di SD ini di banding memilih SD negri yang diiklankan gratis itu, maka yaa itu benar-benar membanting tulang agar kebutuhan itu satu-satu tercukupi membantu suami yang “hanya” buruh pabrik diyogya itu.
Sampai larut malam membuat telur asin, paginya kepasar menyetor ke warung-warung, dan membeli telur bebek di pasar, siangnya mencari rumput untuk makanan kambing - kambing miliknya, belum pekerjaan rutin menjempu anak dari sekolah, masak didapur, sepertinya hanya saat tidur dan makan saja wanita ini istirahat.
Dan pembicaraan tentang SBY yang misscall ini berlangsung di pagi buta didepan sebuah warung milik bu Budi didekat pasar pakem di Yogya tempat mBak genuk biasa menitipkan dagangan telur asinya.
Mendengar gerutuan mBak ini, bu Budi langsung menimpali :
” Lha kemarin itu, saya yang telpon sampeyan jee !, pakai HPnya mas Subaryo ,…wong HPku kehabisan pulsa.”
” Itu…ada pesenan telur asin 300 dari Bu Margo , besok minggu mau nyunatin anaknya”
“oooo..kirain SBY mau mbayar utangnya..!” mBak Genuk kecele tapi tersenyum lebar.
Ternyata SBY adalah Subaryo , Bakul (pedagang) bebek dan unggas di pasar pakem yang kebetulan sedang ada sangkutan dengan Embhak kita ini.
Wualaaah aku yang dengerin sampai domblong lalu ngecees…enggak tahu maksud awalnya.
Yang pasti …Kalau SBY yang hari ini mau dilantik, dan orang-orang terpilih yang kemarin sempat ditelponin, semoga saja tidak seperti mas Baryo bakul bebek di pasar pakem itu, sudah berhutang, lupa juga sama janjinya.
Selamat bekerja buat bapak-bapak semuanya..tugas berat sudah menanti, saatnya singsingkan lengan baju, lupakan dahulu kepentingan-kepentingan pribadi, karena kepentingan orang banyak menjadi hutang anda sekalian.
Filed under Sawah | Comments (6)Perhitungan wilujengan
Postingan ini memang diambil dari ranah tradisi, dimana saat ini banyak orang yang sudah meninggalkan adat ini.
Adat wilujengan (selamatan) bagi orang yang meninggal bagi orang jawa, disamping rumit dan dianggap merepotkan, alasan biaya menjadi pertimbangan bagi orang jawa dijaman sekarang untuk meninggalkan adat tersebut.
Perhitungan ini saya dapatkan saat ibu saya meninggal, di berikan oleh rois (ketua adat) didesa kami , lalu aku catat agar …yaa siapa tahu masih ada yang membutuhkannya.

Perhitungan ini menggunakan 2 kalender : yaitu kalender masehi dan kalender jawa digabungkan dan akan didapatkan hari -hari kapan harus diadakan selamatan dan pada hari-hari tersebut dipantang untuk mengadakan suatu yang dianggap istimewa,misalnya pernikahan, perjalan jauh dan lain sebagainya, karena dianggap akan saling bertolakan.
Berikut perhitungannya dalam bentuk tembang sinom dijamin pada bingung…?????:
Siji - siji anyur tanah ( 1 – 1 Sur tanah )
Telu – telu nelung ari ( 3 – 3 tiga hari )
Pitu – loro mitung dino ( 7 – 2 Tujuh hari )
Limo – limo ngawan ndesi( 5 – 5 empatpuluh hari )
Loro – limo Nyatusi ( 2 – 5 Seratus hari )
Papat – papat Pendhakipun ( 4 – 4 Setahunnya )
Telu – limo Dwiwarso ( 3 – 5 Dua tahun )
Enem – limo Nyewu ari ( 6 – 5 Seribu hari )
Sampun Jengkap Pangetunge wilujengan.
( Sudah lengkap perhitungan selamatannya)
Arti dari tembang perhitungan tersebut :
Siji – siji Anyur tanah (1 – 1 Sur tanah)
- Artinya 1 hari untuk perhitungan masehi dan 1 hari perhitungan jawa (pas hari wafatnya) untuk Wilujengan Sur tanah.
- Contoh : Alm.Ny Wardisugito wafat Jum’at wage 11 Juni 2004 / 22 Bakdomulud 1937 tahun wawu. Maka pada hari itu Jum’at wage 11 Juni 2004 Sore hari setelah dimakamkan diadakan wilujengan sur tanah. (Jangan sampai saat magrib karena perhitungan Jawa, hari dimulai saat mulai maghrib antara pukul 17 s/d 18 setiap harinya)
Telu – telu nelung ari (3 – 3 tiga hari)
- Artinya : Ditambah 3 hari untuk untuk hari masehinya dan ditambah 3 hari juga untuk hari jawanya dimana Hari wafatnya masuk dalam urutan 1 (ikut di hitung)
- Contoh : Hari masehi Jum’at + 3 = Jum’at , Sabtu , Minggu. lalu hari jawanya : Wage + 3 = Wage , Kliwon , Legi
Jadi hari peringatan 3 harinya jatuh hari Minggu legi (Karena hari jawa dimulai pada saat magrib maka wilujengan ini diadakan pada hari Sabtu malam Minggu 12 Juni 2004 habis magrib)
Pitu – loro mitung dino (7 – 2 Tujuh hari)
- Artinya : Ditambah 7 hari untuk untuk hari masehinya dan ditambah 2 hari juga untuk hari jawanya dimana Hari wafatnya masuk dalam urutan 1 (ikut di hitung).
- Contoh : Hari masehi Jum’at + 7 = Jum’at, Sabtu, Minggu…Kamis, lalu hari jawanya:
Wage + 2 = Wage, Kliwon.
Jadi 7 harinya jatuh pada malam kamis kliwon 17 juni 2004 (di adakan wilujengan Rabu malam kamis 16 Juni 2004 habis magrib).
Limo – limo ngawan ndesi (5 – 5 empatpuluh hari)
- Seperti perhitungan diatas lalu kita mencari hari dan pasarannya yang pas pada bulan berikutnya memakai kalender yang ada hari jawanya. (40 hari =1 bulan lebih)
- 5 – 5 = maka didapat harinya Selasa pon, pada bulan juli ada hari yang pas selasa pon (hanya 1 hari) yaitu Tgl 20 Juli 2004. (maka dipastikan itulah harinya).
Loro – limo Nyatusi (2 – 5 Seratus hari)
· Seperti perhitungan diatas dan seterusnya akan didapat hari dan pasarannya 2 – 5 maka Sabtu Pon 100 hari = 3 bulan (September ada hari sabtu pon yaitu Tgl 18 September 2004.
Papat – papat Pendhakipun (4 – 4 Setahunnya)
· Untuk setahunnya dicari bulan jawa yang sama tahun berikutnya lalu cocokkan dengan hari dan pasarannya. Demikian dan seterusnya sampai 1000 harinya.
Telu – limo Dwiwarso (3 – 5 Dua tahun)
Enem – limo Nyewu ari (6 – 5 Seribu hari)
Sampun Jengkap Pangetunge wilujengan
Dan ketika sudah sampai pada hari ke 1000 maka sudah lengkaplah selamatan buat almarhum ini, selamatan terahkir ini biasanya dilakukan lebih meriah dan saat itulah nisan batu dipasangkan di kuburan.
Liburan Lebaran 2008-2009
Mudik 2008
Seperti kebiasaan mudik sebelumnya, kami sekeluarga selalu membawa tenda jika akan mudik ke Yogya, ini dipakai untuk bermalam jadi sekalian camping dijalan tanpa mengeluarkan ongkos penginepan.
setelah melewati macet di cicalengka Bandung , lanjut tasik, sampai sore baru kita sampai di Ciamis.
Setelah berbuka puasa kita lanjutkan perjalanan sampai di Banjar, dan disana kita mencari tempat untuk mendirikan tenda, menhabiskan malam dan menunggu saat sahur , Sholat subuh lalu melanjutkan perjalanan.
Paginya kita mulai lanjutkan perjalanan kembali,
perjalanan dipagi hari melewati Wangon, Gombong, Kebumen sampai di perbatasan Jogya di Wates pun tak berasa karena disuguhi pemandangan kana-kiri yang menakjubkan.
Siang menjelang sore baru kami sekeluarga sampai di Yogya kampung tercinta tepatnya di Desa Dukuh Donokerto Turi Sleman DIY :
http://dukuhsempor.wordpress.com
Saat gema takbir berkumandang kami ke lapangan desa untuk sholat Ied, Setelah selesai sholat ied kamipun saling berkunjung ke tetangga untuk “Ujung”.
Setelah selesai bersilaturahmi dengan tetangga dan kerabat yang sampai 2 hari baru selesai, saatnya untuk mengenal suasana desa lebih dalam:
Memasak di pawon dengan kayu bakar, ikut memandikan saudara sepupu dipagi harinya, setelah siap perbekalan kita pergi kesawah untuk ikut membajak sawah menyusul kakeknya, selesai mandi lumpur lalu mandi di kali sempor.
Esoknya setetah mengantarkan bapaknya reunian, sekeluarga rekreasi ke candi - candi kecil yang banyak ada di Yogya yang hampir terlupakan oleh para wisatawan.
Memberi pelajaran buat anak tentang hasil budaya jaman dahulu, dan sepertinya mereka juga sangat antusias dengan candi yang berantakan itu apalagi saat diajak ketempat candi yang baru ditemukan dan sedang digali , begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab bapaknya yang punya pengetahuan juga sangat terbatas tentang candi.
Walaupun maksud sebenarnya kalau mau kecandi yang terkenal (Prambanan, Borobudur) disaat libur lebaran seperti ini wualah……sudah rame , macet, terlalu banyak permainan yang tidak ada hubunganya sama wisata candi dan yang pasti muahalnya itu.
Tidak berasa waktu harus berahkir dan kamipun harus kembali bali ke Bogor dengan bawaan yang lebih banyak daripada saat mudik.
(keterlaluan memang, maksudnya akan memberi prakteknya malah menerima)
Jalan yang tidak macet seperti di saat mudik dengan selamat sampai di Bogor (Alhamdulillah..!)
———————————–
Tak Mudik 2009
Lebaran ditahun ini saya putuskan untuk tidak mudik, karena ada anggota baru di keluarga ini namanya Ganisa
Disamping untuk mengantisipasi hal - hal yang tidak diinginkan karena kondisi si bungsu yang memang baru lahir, rasanya sudah setiap tahun disetiap lebaran kita mudik, saat nya untuk mencoba merasakan lebaran di Bogor dan Jakarta.
Setelah Sholat Ied di masjid perumahan, kami sekeluarga bersilaturahmi ke tetangga yang belum/tidak mudik juga.
Walaupun tidak seperti di kampung silaturahmi ini lumayan “berasa” mengingat interaksi selama ini sebagai tetangga.
Hari berikutnya kami ketempat saudara di Pondok Bambu lalu ke tempat teman di Cibubur..yaa tujuan yang tidak terlalu banyak seperti di kampung.
Hari ke tiga saatnya mengganti keceriaan anak-anak yang sempat ngambek karena tidak mudik, kami bersama-sama tetangga pergi ke kolam renang Marcopolo di Bogor:
Alhamdulillah.Alhamdulillahirobil Alamin…untuk semua yang telah Kau berikan untuk kami Ya Alloh.
Semoga setiap lebaran akan menjadi liburan yang bermakna bagi keluargaku.
Minal Aidhi Wal Faidhin..Mohon maaf lahir dan batin.
Filed under pawon | Comments (27)Ujung
Tidak tahu kosa kata darimana dan apa artinya: kalau di tempatku dijogya saling bersalam-salaman dan memberikan sungkem saat lebaran di beri nama “ujung” (sebuah kata kerja).
Mungkin maksudnya seperti ujung dibahasa indonesia, inilah sebuah tempat dan saat dimana akad harus diucapkan yang akan meleburkan semua kesalahan diantara kita, saat saling memaafkan, lalu berdoa bersama-sama untuk hari esok yang lebih baik:
Berikut akad ujung yang biasa aku ucapkan saat sungkem sama orang-orang tua di keluargaku ini dilakukan sambil kita menjabat tangannya:
Sepindah kulo sakkeluargo nyaosaken salam taklim dumateng poro rencang sedanten, rambahipun dumateng sedoyo keluargo.
****
Rambah kaping kalih…kulo sakkeluargo nyuwun pangapunten, lampah kulo setindak, ucap kulo seklimah engkang bhoten dipun idhini dumateng sarak, engkang kulo sejo lan bhoten kulo sejo sampun dadosno mboten reno eng penggalih sepindah malih nyuwun samudro pangaksami.
*****
Engkang pungkasan kulo sak keluargo nyuwun tambahing pangestunipun lan monggo-monggo sami kito sedoyo mido’ngo dadoso lebur lebar sedanten doso kita ing wulan syawal puniko, sageto ayem engkang mimpin, tentrem engkang dipun pimpin dadoso negari kita saget ayem-ayem tentrem bothen wonten rubedo lan alangan.
Lalu orang yang kita sungkemi itu akan menjawab dan mendoakan kita, juga akan meminta maaf setiap kesalahanya.
Bapakku mungkin masih termasuk yang benar-benar masih memegang teguh kejawaanya, sebelum pergi sholat ied ia memberikan makan buat ayam dan unggasnya, pergi memandikan sapinya dan mengalungkan ketupat di leher diternaknya itu, malemnya kita kenduri lebaran dengan segala pernak-perniknya, sego golong, tumpeng, jadah, tonto, rempeyek dan beberapa macam jajanan pasar.
Itu belum pakaian yang dikenakan saat idul fitri, kalau bapakku sudah termasuk yang sudah moderat, ia akan memakai sarung dan baju koko, lalu akan berganti baju batik saat menerima tamu, di tempat pakdeku (Alm.pakde Rejo) ia memakai baju sorjan lengkap dengan kerisnya dari mulai sholad ied hingga menerima tamu-tamunya, dan saat “ujung” bersamanya kita akan merasakan ….betapa damainya hidup dengan masih memegang teguh tradisionalitas.
Minal aidhin Wal faidhin ..mohon maaf lahir dan batin buat semuanya.
Wisata desa di Dukuh Sleman DIY
Mungkin karena kangen sama kampung yaaa..3 hari ini, setiap waktu luang ku bikin blog :
http://dukuhsempor.wordpress.com
buat desaku yang kucinta, pujaan hatiku, tempat ayah dan bunda dan hadai tolanku.
Dukuh village, Donokerto, Turi – Sleman

Dusun Dukuh merupakan salah satu dusun yang ada di Desa Donokerto Kecamatan Turi atau sekitar 12 Km arah utara pusat kota Yogyakarta. Kondisi lingkungannya masih terasa kental dengan suasana pedesaan dengan didukung oleh kehidupan masyarakat yang harmonis. Sebagian besar masyarakat Dukuh bertani dan berkebun. Tanah tanah pekarangan yang dipenuhi hijaunya daun salak yang tertata rapi dan bersih menambah indahnya suasana di dusun Dukuh sehingga menarik untuk dinikmati wisatawan.
Itulah awal konsep kami membetuk sebuah desa wisata

The concept of “tourist villages” (desa wisata) came about several years ago when the governments of several regencies realized there was much more in the Jogja area to offer travelers than the familiar Keraton, Borobudur, and Prambanan. Villages were given the choice of participating in the program or not, and those who accepted in some areas were given assistance in developing home stays and simple traditional meals, education in basic hygiene, and promoting their natural attractions.

This is also an opportunity for tourist revenues to extend to the local people, which is welcomed by all. Overnight stays are available at villages that offer home stays, usually in rooms with private toilets added on to a family’s home.

“Agro villages” or the misleading term “agro tourism” refers to visits or overnight stays to hamlets whose daily lives revolve around plantation work. Sleman regency, very near Jogja, where the air is clear and cooler, is the pioneer in this field with several villages in salak (snake fruit) growing areas .

This traditional village is located 12 km north of Jogja and is surrounded by beautiful salak (snake fruit) plantations.

Kesederhanaan, tradisionalitas, dan keramahan kami akan menyambut kedatangan anda.
Filed under Sawah | Comments (7)Tali - tali Merah Putihku

Tali - tali Merah Putihku
Ada tiga tali Pada Benderaku
———————
Tali Yang Pertama di warna merah
Ku Ikatkan di Pergelangan tanganku
Tali yang kedua yang di tengah
Kuikat pada sikuku
Tali ketiga diwarna putih
Aku ikat erat di pangkal lenganku
—————————-
Lalu serta merta jaman berubah
Hampir setiap orang menaikkan benderanya
Rupa - rupa warnanya…!
Ada yang merah, Hijau, Kuning dan Biru
Anakku menyindir………
“Pak ,…….kok kayak lagu balonku ada lima..???”
———————————————–
Lalu Orang - orang itupun sibuk turun kejalan
Dengan kerasnya mulai meneriakkan :
“Hiduuup..!!” ” Merdekaa….!!!” , ” Lanjutkan Pembangunan…..!”
Ada juga yang menyebut - Nyebut nama Tuhan.
————————————————————
Akupun tak mau ketinggalan
Kuangkat tinggi - tinggi tanganku
Aku naikkan merah - putihku
Tak kalah kerasnya aku teriakkan
” Waduh biyuuuung…….sakiiiitnya..!!!”
—————————————-
Tali ketiga benderaku
Menjepit bulu ketekku
******
Si Buntung yang terburu
Dua tugu bergambar pancasila di cat tegas merah dan putih berdiri kokoh diantara jalan masuk desa Beji Kedu Temanggung Jawa tengah, diantara hijau dan kekuningan tanaman padi dan tembakau yang sedang mulai panen.
Sebuah bukit berdebu ditumbuhi beberapa pohon sengon seperti menjadi sebuah perangkap milik sang terburu, seorang tak beruntung yang radikal (GM Caping : sibuntung bukan dalam arti harfiah) terluka di sekujur tubuhnya, dan sudah membawa luka sejarah sejak lama, dari hari ke hari menjalani hidupnya menjadi sang terburu.
Dan malam mulai mencekam, saat luka yang dirasakannya mulai menyayat , (mungkin) … dalam hatinya mulai bimbang tentang jalan “lurus” yang selama ini dijalani. Seperti kuda yang berkacamata tanpa pernah bisa dan mau menengok tentang “yang lain” disisi kanan kirinya, karena “yang lain” (liyan) adalah para kafir yang memang layak untuk binasa. Sedang diluar sang pemburu seperti sengaja, membiarkan dirinya mulai merasakan sebuah luka yang tak termanai dan sebuah tujuan yang mulai kehilangan harapan.
Disaat itulah otaknya bekerja untuk mendulang, memutar kembali tentang diri dan segala hal yang sudah terjadi selama ini dalam cengkraman rasa takut yang menggumpal, rasa itu kadang hilang berganti dengan kepercayaan yang masih tersisa, ia masih mencoba mengisolasi diri, mencoba menjadikan dirinya merasa sedikit aman dengan benda-benda yang ada didekatnya, merawat khayal atau phantasma-nya, menyimpan tenaga, dan menanti sampai saatnya datang, ia akan “membalas”.
Dan saat yang dinantikannya tak kunjung datang, ia mulai merintih , sebuah rintihan yang sedikit panjang dalam malam yang semakin kelam, Ia mulai menghitung peluru asa yang tersisa dengan pandangan yang mulai kabur seperti bertabur bintang…….yaa darah sudah terlalu banyak tertumpah!!! (tidak hanya dari tubuhnya tapi juga dari tubuh para korban tak berdosa)
Teringat masa kanak-kanaknya, teringat teman-temanya yang satu jalan dalam “jalan lurus” miliknya dan sudah lebih dahulu melewatkan nafas terahkirnya, teringat tentang semua dosa yang telah dilakukannya, dan keraguan itu mulai muncul.
Mestinya saat itu Ia mulai sadar, teror yang dirancangnya selama ini hanyalah sebuah pameran kepiawaian menghilangkan jejak, merancang operasi di tengah kesulitan, dan tak lebih dari itu, mungkin jauh dari harapan awalnya “sebuah revolusi”.
Karena ketika pertunjukan buas dan tak bermoral yang hampir kehilangan tujuan itu berhadapan dengan sesuatu yang lebih berharga : sebuah harapan, sebuah ikhtiar untuk sebuah negeri yang aman dan demokratis , kita tahu siapa yang akan menang. Kita. Indonesia. (Caping : Teror itu)
Yaa..si buntung radikal memang dipaksa untuk mati konyol dua kali (mengandalkan otak kanan :Fandie) Mati karena fanatisme yang berlebihan dan mati karena fanatismenya dimanfaatkan oleh pihak yang diperangi oleh fanatisme itu sendiri

Dan tugu Pancasila yang di cat dengan tegas merah dan putih diantara jalan desa itu tetap berdiri kokoh, diantara hijau dan kekuningan tanaman padi dan tembakau yang mulai panen.
Ia yang dibangun dengan dana, semangat, dan gotong royong warga desa itu seperti menyuarakan sebuah harapan untuk esok hari yang lebih cerah. suara desing peluru dan dentuman bom seperti tidak memberikan pengaruh yang berarti selain beberapa pecahan genting yang mengenainya, dan esok atau lusa saat suasana sudah reda beberapa warga akan berkumpul, bercengkrama di dekatnya, berencana membantu warga mereka yang sedang berduka, merancang pekerjaan sawah mereka , pembetulan amplifier di masjid , dan lomba tujuh belasan yang akan diadakan oleh mereka juga. (orang desa… selalu punya cara dan dana untuk kehidupan sosial mereka !!).
Untuk hari esok Indonesia…!
MERDEKA !!!!!!!
Filed under Sawah | Comments (12)



















